Filosofi Padiku

Kenapa harus ditundukan?

Kenapa harus direndahkan?

Apakah tidak berbahaya jika tak berisi,

tapi sudah terlanjur terintimidasi.

 

Jika ia ingin ditinggikan,

maka tinggikanlah.

Karena ia kokoh berpijak. ia bisa percaya.

Yang tak kokoh berpijak juga akan mati sama rendahnya.

 

Apa gunanya merendah tanpa isi?

tong yang kosong pun, tak akan nyaring jika kau tak pukul?

lalu kenapa kau pukul?

Seperti menakuti paku yang tinggi yang akan terpukul?

 

Biarlah ia yakin, sebelum ia benar

Bob Dylan juga bukan piawai memetik gitar

Jangan kau pangkas dengan pengetahuan zamanmu.

Karena kehidupan ini tak boleh mati bersamamu.

 

– @adrianoqalbi

Fenomena 2.0

Sebelum dimulai, gw ingin mengakui bahwa juga gw juga bersalah atas masalah yang sama.

 

Aku!!

Aku!!

Lihat aku bisa apa?

Lihat aku di mana?

Tampaknya belum pernah ada era dalam sejarah perkembangan budaya manusia dimana narsisisme begitu dielu-elukan, dan dipuja-puji. Sebut saya orang tua, tapi era ini sangatlah aneh buat saya. ini juga menyebabkan kenapa karir (ya kalo bisa memang layak disebut karir) di dunia entertaiment pun mandek. Abisan, saya dituntut untuk terus mempromosikan, heeii lihat saya melakukan ini, saya melakukan itu, ini lucu banget deh, percaya lah opini saya. Sedangkan umur semakin tua, ketik touch screen saja typo, mestinya sewa asisten yang baru puber saja, pasti dia lebih tau dari saya.

 

Lalu mendadak semua orang itu adalah “seseorang”, entah mau presenter, kritikus film, pemerhati sosial dan politik, sampai yang hanya bermodalkan pemikiran kritis pun tak terlewatkan dari mata publik. Katanya “kalo memang berprestasi, bukan cuma mencari sensasi, berarti patut dihargai”, ya tapi dengan era “berbagi” ini, apa yang menjadikan syarat berprestasi? 10thn yang lalu menjadi ahli politik itu membutuhkan lulus dari sekolah yang terkait, mungkin juga menjadi praktisi beberapa tahun, baru bisa dianggap ahli. kalo sekarang cukup bermodalkan koneksi internet, dan akun sudonim, dan sesekali mem-post qoute berbahasa inggris yang berbau-bau pemberontakan bisa dianggap ahli (kalo sudah pintar berbahasa inggris pasti dianggap sebagai kebenaran kan?).

 

Apakah ini sebetulnya pergerakan untuk merebut kekuasaan dari sebuah institusi pengesahan, bahwa kalo mau dianggap pintar, tak perlu lagi bergelar sarjana, bahwa akhirnya institusi pendidikan pun bersalah karana membeda-bedakan yang berniat belajar, karena yang bisa belajar harus memiliki uang?

Dunia memang berputar seperti ini, dulu di musik juga mengalami hal yang sama, berangkat dari sebuah kebudayaan rakyat, yang akhirnya menjadi kompleks, lalu mulai memisahkan orang-orangnya, siapa yang berbakat siapa yang tidak. tapi akhirnya aliran-aliran seperti indie dan punk pun mengembalikan musik kembali ke masyarakat umum, dimana faham “3 chords saja cukup” merajalela untuk terkenal.

ya dunia memang berputar seperti itu, dari yang simpel – kompleks – simpel lagi.

Tapi tampaknya ini hanya isi kepala saya. ini bukan pergerakan mengembalikan kekuasaan ke tangan rakyat. ini cuma ledakan generasi yang miskin merasakan kasih sayang saja. kalo saja orang tuanya setiap pulang bekerja mau memeluk anaknya dan bilang “ibu bangga sama kamu nak”, mungkin saja twitter bangkrut.

kalo saja punya sumber kasih sayang lain selain dari pacar atau pasangan, ada teman yang selalu menanyakan, di mana? lagi apa? apa pendapat mu tentang itu? mungkin status FB pun tak perlu lebih dari 5 baris.

Marah-marah kok di status facebook sih? apa dengan memencet tuts huruf keras-keras dan menulis dengan caps locks masalah jadi hilang? tapi ini bisa jadi menjadi sumber ide untuk menciptakan ketik di touch screen.

Pada suatu hari dalam sebuah sidang akbar para penemu dunia, ditengah-tengah pertemuan tersebut ada seorang ilmuan yang mendobrak masuk, sambil terengah-engah.

Ilmuan 1: kita harus segera menciptakan touchscreen, people are typing angry, keyboard tak mampu lagi menahan kemarahan manusia pak!

Pemimpin ilmuan: tapi kita selangkah lagi menemukan obat kanker?

Ilmuan 1: people are typing angry pak!!

Pemimpin ilmuan: baik kita tunda obat kanker

yaaaahh we never know, mungkin saja kan. it’s funny how lonely this world can be kalo batre hape mati?
Anyway, saya bukan mengkritisi, saya cuma ingin mengibarkan bendera putih menyatakan tak mampu ikut berkompetisi di era 2.0 ini, this is how bad i am in competing for fame, mungkin ngga banyak yang tahu, dulu gw punya loh program radio sendiri, meski cuma warisan, tapi setelah setahun program itu di cut. yauda cuma sejauh itu aja karir gw dalam dunia entertaiment. Yang keren adalah, produser program itu punya program sendiri di radio lain. Edan. bilang kek kalo emang dari dulu ingin menyicipi juga. suka gitu sih.

 

Pokonya untuk @pange dan @kamga, sebagai yang artis dan semi-artis di grup ini (tapi sekarang ngga jelas sih mana yang artis mana yang semi-artis, abis pange meroket sekali sih) tolonglah nasib group ini ada di tangan kalian.

-AdrianoQalbi-

Our latest interview by midjournal

We Are Not Alright: Yang Tak Ada di Televisi Anda

Pernah dengar gerombolan We Are Not Alright? Bukan, mereka bukan geng motor yang lebih memilih mengatur siasat bagaimana menang balap liar ketimbang memikirkan bagaimana melunasi cicilan. Mereka adalah stand up comedian kolektif yang sudah beberapa kali menggelar pertunjukan.

Baiklah, kami tidak akan memaksa anda berpikir keras seolah mengenal mereka. Mereka memang tak seterkenal komedian penabur tepung. Meskipun begitu, tak ada salahnya berkenalan dengan empat comic yang akan menyajikan pertunjukan bertajuk Not As Seen On TV pada 31 Januari dan 1 Februari di Tryst Kemang ini. Mereka adalah Pangeran Siahaan, Adriano Qalbi, Kukuh Adi, dan Mohammed Kamga.

We Are Not Alright

We Are Not Alright

Midjournal [MID]: Silakan perkenalkan diri masing-masing, terutama apa yang kalian kerjakan untuk bertahan hidup mengingat frekuensi naik panggung kalian tak sebanyak comic lainnya. Para penggemar kalian pasti ingin tahu.

Pangeran [P]: Saya bukan dan tak akan pernah jadi seorang comic. Justru saya benci disebut comic dan akan menatap sinis kepada siapa pun yang memanggil demikian. I think I have an ADHD, so I do several different things just to keep me amused, but basically I’m an agent provocateur.

Adriano [A]: Pekerjaan saya adalah copywriter/creative director. Kami semua masih jadi part time comic kok.

Kukuh [Kh]: Sehari-hari saya bekerja pada salah satu lembaga swadaya masyarakat di Jakarta, jadi masih bisa bertahan hidup lah. Lagipula, saya tidak sebegitunya mencari uang dari stand up comedy kok.

Kamga [Km]: Mohammed Kamga. Penyanyi dan pencipta lagu.

[MID]: Saat comic lain sibuk menggelar pertunjukan tunggalnya, kalian masih langgeng dalam grup We Are Not Alright, bahkan menggaet satu orang lagi. Ini karena terlalu setia kawan atau kekurangan percaya diri?

[P]: We just want to do things right. We don’t care about others. Back then when I initiated Provocative Proactive Stand Up, nobody cared to talk about politics as they thought nobody would understand the material. When we started We Are Not Alright, nobody had the idea to form a collective group as if it’s a rocket science. It’s important to note that We Are Not Alright is not a stand up comedy group, it’s an art collective.

[A]: Karena kalau lihat di luar (negeri), yang bikin pertunjukan tunggal atau spesial itu setelah 10 tahun berkarir. There’s a reason why they call it a special. Saya merasa belum ada yang sespesial itu di sini. Lagipula, pada saat terbentuk We Are Not Alright, kami membuka banyak jalan buat comic lainnya untuk bikin pertunjukannya masing-masing. Kalau tidak begitu, nasib comic di sini hanya sebatas menjadi opener (red: penampil pembuka).

[Kh]: Sebenarnya saya sesetia kawan itu dengan Pange, Adri (entah bagaimana mereka), juga dengan Kamga (sedang masa proses, sih). Tapi pada dasarnya, untuk sekarang ini belum ada keinginan untuk bikin special show.

[Km]: Ini bukan pertanyaan untuk saya tampaknya.

[MID]: Menyinggung tema pertunjukan kalian kali ini, Not As Seen On TV, ada apa sebenarnya dengan televisi kita?

[P]: “Revolution will not be televised“, seru Gil Scott-Heron. Kalimat itu cukup menjelaskan. Anda tidak akan menemukan Efek Rumah Kaca, Seringai, dan Homicide dalam acara-acara musik di TV.

[A]: Saya tidak tahu bagaimana menanggapi pertanyaan ini tapi saya tahu televisi kita itu kacau. Ada yang tidak beres.

[Kh]: Anda tonton saja saluran-saluran TV nasional pada jam tayang utama selama 10 menit.

[Km]: Saya termasuk orang yang seminggu sekali muncul di RCTI, dan sudah 6 bulan tidak muncul di TV nomor satu itu, dan saya bahagia. Silakan simpulkan sendiri.

[MID]: Menurut kalian, mana yang lebih sulit: Menjadi lucu atau menjadi didengar?

[P]: Saya tidak ambil pusing untuk jadi lucu atau didengar. Kalau mereka (penonton) suka, bagus; kalau tidak suka, bukan masalah. Saya bukan penghibur.

[A]: Lebih sulit didengar.

[Kh]: Relatif. Kadang orang harus melucu lebih dulu agar didengar, tapi kadang orang yang sudah terlalu sering didengar bisa jadi sangat lucu.

[Km]: Lucu.

[MID]: Deskripsikan apa yang kalian rasakan ketika para penonton pecah tawanya setelah mendengar lelucon kalian?

[P]: “Oh, look what your brain is capable of when you let it function properly.”

[A]: They understand or they agree.

[Kh]: Senang, setidaknya berarti saya tidak gagap.

[Km]: Senang, sih. Menurut saya, bikin orang lain tertawa itu sekelas bikin orang tersentuh saat bernyanyi.

[MID]: Karena kita tumbuh dan dibesarkan dengan berbagai definisi ciptaan manusia, beri kami sebuah kalimat yang akan menjadi jawaban kalian saat ditanya: Apa itu stand up comedy?

[P]: Sebuah kefanaan belaka.

[A]: Tren yang meledak, dan saya terjebak di dalamnya. It’s a love and hate relationship.

[Kh]: Sudut pandang orang ketiga.

[Km]: Sebuah seni berkaca.

[MID]: Ceramah apa saja yang akan kalian sampaikan di Tryst nanti?

[P]: Tentang hal-hal yang akan membuat ibumu marah jika tahu kalian datang menonton kami.

[A]: Materi saya nanti seputar pemikiran tentang agama, melawan tradisi, dan relationship.

[Kh]: Seperti biasa, pendapat-pendapat.

[Km]: Tak ada yang spesial. Saya cuma mau bicara jujur. Biasanya, orang-orang suka yang buka-bukaan.

[MID]: Pertanyaan terakhir, tolong beri kami alasan mengapa sebaiknya kami merelakan sejumlah uang untuk menonton Not As Seen On TV daripada untuk menyumbang korban bencana alam?

[P]: Jika kalian harus berpikir keras untuk memilih antara menyumbang korban bencana atau menonton kami, rasanya kalian bukan segmen penonton yang kami sasar.

[A]: Ada kemungkinan ditipu jika menyumbang untuk korban bencana alam. Untuk menonton kami? Yang jelas kami bukan penipu.

[Kh]: Dana sumbangan bencana alam bisa diselewengkan, sedangkan menonton kami tidak.

[Km]: Kenapa tidak keduanya? Jangan kayak orang susah.

Stop TV Swasta Nasional

Sebetulnya saya terlalu lama menunda untuk memposting topik ini, ini pernah menjadi pembahasan saya bersama narsum Maman Suherman dalam acara radio HRFM Provocative Proactive, Kenapa saya sering membahas tentang media, khususnya TV, karena mereka telah menjadi entity yang begitu agung, yang tidak bisa diganggu gugat, pengaruhnya begitu besar, tapi kesadaran sosial untuk menghadirkan sesuatu yang baik, berpendidikan tampaknya begitu minim.

Menurut saya, TV swasta harus dilarang memiliki hak siar nasional, kenapa? karena mereka dimiliki oleh swasta. Lalu kenapa diperbolehkan? karena bukan rahasia lagi, dulu pemilik para TV swasta ini adalah anak-anak dari penguasa rezim yang lampau. plus jangan lupa, hampir semua TV swasta ini berbendera politik kok. Jadi sudah jelas berita itu berpihak.

Hak siar nasional mestinya hanya dimiliki TVRI sebagai stasiun tv milik pemerintah yang diharapkan selalu netral dalam menyajikan berita-beritanya.

Ada beberapa bahaya yang teramat sangat fatal jika TV Swasta diberi kewenangan untuk bersiaran dalam skala nasional.

1. Pemberitaan Bencana

Fungsi utama TV adalah alat untuk menyebarkan informasi secara mainstream, tapi karena TV Swasta yang bersiaran secara nasional itu berlokasi di Jakarta, sudah tentulah sebagian besar berita yang disiarkan itu demi keuntungan pusat. Di awal tahun 2013 di jakarta terjadi banjir yang sampai merendam istana negara, berita liputannya dari bulan Januari sampai Februari, sementara itu di waktu yang sama, terjadi banjir di daerah Manado, yang tidak ada beritanya.

Betul Istana adalah ikon negara, jadi satu negara harus tahu apa yang terjadi. tapi ngga perlu sampai berbulan-bulan sampai satu Indonesia harus nonton ini terus, apa lagi kalo di daerah tersebut sedang terjadi bencana jg.

menurut saya ini sebuah kegilaan, jika saya tinggal 3km dari titik banjir di Manado, saya merasa tenang karena setiap TV hanya menyiarkan banjir Jakarta, pdhl ngga jauh dari rumah ada banjir yang mengancam hidup saya.

2. Keterpihakan secara politik

Tadi sudah saya sebutkan bahwa setiap TV membawa bendera politik, bukannya tidak boleh, sebagai media penyebaran informasi mainstream, ini merupakan persenjataan yang sangat penting bagi sebuah partai, di USA pun begini cara bekerjanya. Tapi.

Apakah mereka sudah mengadakan edukasi yang cukup terhadap audience, TV mana milik siapa? contoh, TV One selalu bilang “bencana alam lumpur Sidoarjo”, sisanya akan bilang lumpur Lapindo. karena yang satu punya kepentingan melindungi sebuah citra, yang sisanya tidak punya. tapi ini bukannya tidak boleh, tapi hrs ada edukasi terlebih dahulu, TV mana yang berpihak kemana. Seperti di USA, CNN itu lebih condong ke Democrat, FOX itu lebih condong ke Republican, ya tentu kalo nonton beritanya, pasti bias, tapi ya memang begini dunia. Saya lebih terima jika semua mengeluarkan warna aslinya.

Apakah dengan dominansi TV Swasta nasional yang berlokasi di jakarta ini, setiap daerah-daerah bisa mendapatkan berita politik didaerahnya masing-masing? pada saat pemilihan gubernur atau walikota, dapatkan audience mereka mendapatkan informasi dari TV, atau semua terlibas dengan berita dari pusat?

Apakah mereka bisa mengetahui apa yang sedang dilakukan gubernurnya atau walikotanya? Ppa mereka tahunya hanya aksi jokowi dan ahok? (buat apa yang diluar jakarta tahu ttg jokowi dan ahok, perlu, tapi bukan cuma ini politisi yang mereka harus tahu)

kita akan mengadakan pemilu 2014, 2 bln setelah piala dunia (yang merupakan tontonan semua lapisan masyarakat). Dan hak siar piala dunia hanya akan ditayangkan oleh satu TV Swasta Nasional. Saya tidak kaget, kalo nanti setiap halftime calon Presiden dan Wakil Presiden akan pidato “tolong pilih saya”. tentu keberuntungan ini akan membuat pertarungan pemilu menjadi timpang. Ada alasan yang sangat kuat, kenapa pemilik stasiun TV diajak jadi WaPres, ya untuk tujuan yang satu ini. Dan saat ini saya percaya ada CaWaPres yang punya TV network sedang dimarahi karena kalah tender penyiaran Piala Dunia.

Plus, terlalu enak jika yang ingin menjadi Presiden hanya cukup duduk santai, pidato dari Jakarta untuk meminta simpati. Jika ingin menjadi Presiden, bukannya org itu mestinya jalan keluar “door-to-door” keliling Indonesia untuk mencari dukungan? kok enak bgt. saya merasa, kalo toh nantinya org yang berkuasa akan korup juga, paling tidak yang mau korup, jgn males lah, gih keliling sana.

3. Jakarta akan selamanya menjadi mercusuar

Maksud mercusuar disini adalah Jakarta akan selamanya akan menjadi daerah yang diminati dalam mencari ketenaran. terlalu diminati bahkan. ketimpangan yang Jakarta telah dapatkan membuatnya menjadi seperti tuhan.

Jika ingin mendapat uang cepat, coba saja datang ke daerah-daerah, blg datang dari jakarta, sedang mengadakan lomba acting, orang banyak berlomba-lomba ikut, ngasih duit, sampe jual sawah. kasus seperti ini sering terjadi, baik yang beneran atau mau cuma nipu.

Kenapa menjadi seperti ini? karena ledakan TV lokal daerah br ada setelah era reformasi, ada beberapa daerah seperti Surabaya dengan SCTV, tapi hanya beberapa gelintir saja. Perbedaan gap waktu ini membuat TV Jakarta lebih canggih alat produksinya, lebih besar produksinya dan tentunya lebih diminati. “ke-sexy-an” ini membuat TV lokal menjadi tidak significant.

4. Menghalangi kemajuan acara TV dan ekonomi lokal

Di post saya yang lama, Advertising, TV, dan pelaku seni saya sedikit menjelaskan bagaimana bisnis TV bekerja, bukan mereka tidak mau memproduksi yang bagus, tapi karena biaya produksinya jadi terlalu mahal untuk mendapatkan untung yang sama jumlahnya. mereka tidak bergerak demi melayani penonton tapi demi Iklan.

Jakarta atau kota-kota besar lainnya sudah eneg dengan acara TV, tapi apakah ini akan membuat TV men-stop penggunaan efek karpet terbang yang seadanya dan sangan mudah ketawan itu? tentu tidak, karena jika bicara Indonesia, yang di kota besar mungkin eneg, tapi sisanya tidak gitu. Buat apa berubah kalo peminat masih banyak, dan iklan hanya mau beriklan di TV yang banyak peminatnya. Jadi bayangkan, Duit iklan semua masuk untuk TV Jakarta, padahal yang di Jakarta ngga ada yang doyan.

Ini juga yang akan membunuh TV lokal untuk berkembang, karena jmlh penonton TV lokal itu terlalu sedikit, karena sedikit, iklan tidak mau beriklan, jika tidak ada yang beriklan, TV tersebut akan mati.

Kenapa menghalangi pertumbuhan ekonomi lokal? jika saya memiliki toko di Pontianak dan ingin memajukan bisnis saya, saya harus beriklan, tapi pasang dimana jika TV lokal tidak ada yang nonton. Berarti saya harus budget untuk pasang di TV Swasta nasional, tapi buat apa? jika ada budgetnya pun, buat apa yang di Jakarta tahu ttg toko saya? akhirnya jd tidak beriklan.

Saking sedikit yang beriklan di TV lokal, TV lokal harus membanting tarif harga dengan sangat keras, kebetulan saya pernah bermain ke Katulistiwa TV, salah satu TV lokal di Pontianak, coba tebak berapa tarif pemasangan iklan 30 detik di TV tersebut?

jawabannya adalah 50ribu, yak sebanding dengan uang pulsa memang. jd bayangkan, dlm acara 30 menit (24 menit + 6 menit iklan) tv hanya mendapatkan pemasukan 600ribu (50ribu x 6 menit slot iklan). acara apa yang bisa dibikin dengan budget 600 ribu?

Saya berharap akan segera diberlakukan kebijakan dan aturan main yang jelas, demi kebaikan semua, demi kebaikan konsumen dan kualitas acara TV, jika diperhatikan, kualitas acara TV dan musik semakin menurun tiap harinya, kenapa? mereka dipaksa untuk “menyenangkan” satu NKRI ini, padahal kualitas bagus, indah atau bermanfaat akan selamanya ditahan budaya, maksudnya yang bagus di Bogor, belum tentu bagus di Ambon begitu juga seterusnya. bagus untuk semua itu hanya berarti tidak bermanfaat untuk semua.

Jika TV diwajibkan hanya boleh mengambil audience lokal, pasti saya yakin acaranya makin berkualitas, musik jg begitu, dan bisnis lokal jg bisa berkembang. Dengan lokalisasi berarti insight untuk memproduksi sesuatu akan semakin dalam dan hasilnya, acara dan musik yang ditayangkan akan selalu berkaitan dengan insight daerahnya. Setiap daerah bisa menikmati komedinya, keseniannya, dramanya plus mendapatkan info komersial yang berkaitan dengan daerahnya. Mungkin NKRI, untuk pertama kali, akan hidup sesuai dengan semboyannya berbeda-beda tapi tetap satu. sekarang tampaknya baru sampai “memaksakan jadi satu semua perbedaan”.

Adriano Qalbi

We Could Be Right

WeCouldBeRight

Yes, after almost 6 month since the last dance, three posh and pretentious middle-class Jakarta lads by the name of We Are Not Alright are now back.

Yes, di tempat yang sama, Tryst’s Resto & Gallery, Kemang.

Yes, itu show dua hari (Sabtu 20 April dan Minggu 21 April 2013). Show pertama kita tahun lalu sold out dan over-capacity. Kami hanya menuruti hukum Supply & Demand. Neolib.

Yes, free first drink.

No, ngga gede kok, kapasitas cm 120 tiket/hari. ada yang dpt duduk, ada yang berdiri

No, ini cuma mini show dan kita nggak bikin tur. We’re kinda busy living in reality.

Harga tiketnya Rp. 75.000. Untuk pesan tiket, tinggal hubungi no telp 08980909021, 08568532503 atau email ke wearenotalright@yahoo.com. Bilang mau tiket hari apa dan jumlah tiket yang dipesan, lalu ikuti petunjuk selanjutnya dengan seksama seolah-olah itu petunjuk Ilahi.

Yes, hanya karena di poster tidak ada gambar orang berdiri di depan mikrofon dan stand-nya,  tidak berarti ini bukan acara stand up comedy. Ada masa yang belum lama berlalu ketika grafis corong pengeras suara belum dimonopoli oleh stand up comedians seperti swastika sebelum dicaplok Nazi.

We’re not saying that we have the moral standard, but hey, we could be right.

Jual! Jual! Jual di mana mana!

Image

“Apakah kamu pintar?”

“Apakah kamu berprestasi?”

“Apakah kamu orang yang baik?”

“Bagus!”

“Tapi apakah kamu ada nilai jualnya?”

“Tidak?”

“Oke Bye!”

 

Saat ini manusia bukanlah makhluk hidup ciptaan Tuhan lagi, manusia sudah menjadi sebuah produk ciptaan manusia. Terpampang disebuah etalase supermarket yang bernama hidup dengan pembeli berupa lapangan-lapangan pekerjaan.

Label harga setiap individu diberikan oleh para pendahulu. Bukan suatu masalah jika harganya murah atau mahal, selama pembelinya banyak apapun bisa dilakukan. Sejauh mata memandang yang terlihat hanya jualan orang orang.

 

Turut berduka atas kehilanganmu, tapi nampaknya pasar menyukaimu.

Biar kugunakan mukamu untuk menjual barang – barangku.

Gak usah bilang “gak mau”.

Karna kau juga cuman produk buatan kaumku.

 

– Kukuh Adi