Fenomena 2.0

Sebelum dimulai, gw ingin mengakui bahwa juga gw juga bersalah atas masalah yang sama.

 

Aku!!

Aku!!

Lihat aku bisa apa?

Lihat aku di mana?

Tampaknya belum pernah ada era dalam sejarah perkembangan budaya manusia dimana narsisisme begitu dielu-elukan, dan dipuja-puji. Sebut saya orang tua, tapi era ini sangatlah aneh buat saya. ini juga menyebabkan kenapa karir (ya kalo bisa memang layak disebut karir) di dunia entertaiment pun mandek. Abisan, saya dituntut untuk terus mempromosikan, heeii lihat saya melakukan ini, saya melakukan itu, ini lucu banget deh, percaya lah opini saya. Sedangkan umur semakin tua, ketik touch screen saja typo, mestinya sewa asisten yang baru puber saja, pasti dia lebih tau dari saya.

 

Lalu mendadak semua orang itu adalah “seseorang”, entah mau presenter, kritikus film, pemerhati sosial dan politik, sampai yang hanya bermodalkan pemikiran kritis pun tak terlewatkan dari mata publik. Katanya “kalo memang berprestasi, bukan cuma mencari sensasi, berarti patut dihargai”, ya tapi dengan era “berbagi” ini, apa yang menjadikan syarat berprestasi? 10thn yang lalu menjadi ahli politik itu membutuhkan lulus dari sekolah yang terkait, mungkin juga menjadi praktisi beberapa tahun, baru bisa dianggap ahli. kalo sekarang cukup bermodalkan koneksi internet, dan akun sudonim, dan sesekali mem-post qoute berbahasa inggris yang berbau-bau pemberontakan bisa dianggap ahli (kalo sudah pintar berbahasa inggris pasti dianggap sebagai kebenaran kan?).

 

Apakah ini sebetulnya pergerakan untuk merebut kekuasaan dari sebuah institusi pengesahan, bahwa kalo mau dianggap pintar, tak perlu lagi bergelar sarjana, bahwa akhirnya institusi pendidikan pun bersalah karana membeda-bedakan yang berniat belajar, karena yang bisa belajar harus memiliki uang?

Dunia memang berputar seperti ini, dulu di musik juga mengalami hal yang sama, berangkat dari sebuah kebudayaan rakyat, yang akhirnya menjadi kompleks, lalu mulai memisahkan orang-orangnya, siapa yang berbakat siapa yang tidak. tapi akhirnya aliran-aliran seperti indie dan punk pun mengembalikan musik kembali ke masyarakat umum, dimana faham “3 chords saja cukup” merajalela untuk terkenal.

ya dunia memang berputar seperti itu, dari yang simpel – kompleks – simpel lagi.

Tapi tampaknya ini hanya isi kepala saya. ini bukan pergerakan mengembalikan kekuasaan ke tangan rakyat. ini cuma ledakan generasi yang miskin merasakan kasih sayang saja. kalo saja orang tuanya setiap pulang bekerja mau memeluk anaknya dan bilang “ibu bangga sama kamu nak”, mungkin saja twitter bangkrut.

kalo saja punya sumber kasih sayang lain selain dari pacar atau pasangan, ada teman yang selalu menanyakan, di mana? lagi apa? apa pendapat mu tentang itu? mungkin status FB pun tak perlu lebih dari 5 baris.

Marah-marah kok di status facebook sih? apa dengan memencet tuts huruf keras-keras dan menulis dengan caps locks masalah jadi hilang? tapi ini bisa jadi menjadi sumber ide untuk menciptakan ketik di touch screen.

Pada suatu hari dalam sebuah sidang akbar para penemu dunia, ditengah-tengah pertemuan tersebut ada seorang ilmuan yang mendobrak masuk, sambil terengah-engah.

Ilmuan 1: kita harus segera menciptakan touchscreen, people are typing angry, keyboard tak mampu lagi menahan kemarahan manusia pak!

Pemimpin ilmuan: tapi kita selangkah lagi menemukan obat kanker?

Ilmuan 1: people are typing angry pak!!

Pemimpin ilmuan: baik kita tunda obat kanker

yaaaahh we never know, mungkin saja kan. it’s funny how lonely this world can be kalo batre hape mati?
Anyway, saya bukan mengkritisi, saya cuma ingin mengibarkan bendera putih menyatakan tak mampu ikut berkompetisi di era 2.0 ini, this is how bad i am in competing for fame, mungkin ngga banyak yang tahu, dulu gw punya loh program radio sendiri, meski cuma warisan, tapi setelah setahun program itu di cut. yauda cuma sejauh itu aja karir gw dalam dunia entertaiment. Yang keren adalah, produser program itu punya program sendiri di radio lain. Edan. bilang kek kalo emang dari dulu ingin menyicipi juga. suka gitu sih.

 

Pokonya untuk @pange dan @kamga, sebagai yang artis dan semi-artis di grup ini (tapi sekarang ngga jelas sih mana yang artis mana yang semi-artis, abis pange meroket sekali sih) tolonglah nasib group ini ada di tangan kalian.

-AdrianoQalbi-

2 thoughts on “Fenomena 2.0

  1. Tara

    “it’s funny how lonely this world can be kalo batre hape mati?”
    it is freaking lonely!!! Karena betapa menyenangkannya bisa interaksi sama banyak orang minus body odor dan eye contact.
    gue pun mulai enek sama gue-isme, makanya gue jarang ngobrol lagi sama lo, abis lo ngomongin diri lo sendiri mulu sih hahahaha

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s