Author Archives: wearenotalright

Filosofi Padiku

Kenapa harus ditundukan?

Kenapa harus direndahkan?

Apakah tidak berbahaya jika tak berisi,

tapi sudah terlanjur terintimidasi.

 

Jika ia ingin ditinggikan,

maka tinggikanlah.

Karena ia kokoh berpijak. ia bisa percaya.

Yang tak kokoh berpijak juga akan mati sama rendahnya.

 

Apa gunanya merendah tanpa isi?

tong yang kosong pun, tak akan nyaring jika kau tak pukul?

lalu kenapa kau pukul?

Seperti menakuti paku yang tinggi yang akan terpukul?

 

Biarlah ia yakin, sebelum ia benar

Bob Dylan juga bukan piawai memetik gitar

Jangan kau pangkas dengan pengetahuan zamanmu.

Karena kehidupan ini tak boleh mati bersamamu.

 

– @adrianoqalbi

Fenomena 2.0

Sebelum dimulai, gw ingin mengakui bahwa juga gw juga bersalah atas masalah yang sama.

 

Aku!!

Aku!!

Lihat aku bisa apa?

Lihat aku di mana?

Tampaknya belum pernah ada era dalam sejarah perkembangan budaya manusia dimana narsisisme begitu dielu-elukan, dan dipuja-puji. Sebut saya orang tua, tapi era ini sangatlah aneh buat saya. ini juga menyebabkan kenapa karir (ya kalo bisa memang layak disebut karir) di dunia entertaiment pun mandek. Abisan, saya dituntut untuk terus mempromosikan, heeii lihat saya melakukan ini, saya melakukan itu, ini lucu banget deh, percaya lah opini saya. Sedangkan umur semakin tua, ketik touch screen saja typo, mestinya sewa asisten yang baru puber saja, pasti dia lebih tau dari saya.

 

Lalu mendadak semua orang itu adalah “seseorang”, entah mau presenter, kritikus film, pemerhati sosial dan politik, sampai yang hanya bermodalkan pemikiran kritis pun tak terlewatkan dari mata publik. Katanya “kalo memang berprestasi, bukan cuma mencari sensasi, berarti patut dihargai”, ya tapi dengan era “berbagi” ini, apa yang menjadikan syarat berprestasi? 10thn yang lalu menjadi ahli politik itu membutuhkan lulus dari sekolah yang terkait, mungkin juga menjadi praktisi beberapa tahun, baru bisa dianggap ahli. kalo sekarang cukup bermodalkan koneksi internet, dan akun sudonim, dan sesekali mem-post qoute berbahasa inggris yang berbau-bau pemberontakan bisa dianggap ahli (kalo sudah pintar berbahasa inggris pasti dianggap sebagai kebenaran kan?).

 

Apakah ini sebetulnya pergerakan untuk merebut kekuasaan dari sebuah institusi pengesahan, bahwa kalo mau dianggap pintar, tak perlu lagi bergelar sarjana, bahwa akhirnya institusi pendidikan pun bersalah karana membeda-bedakan yang berniat belajar, karena yang bisa belajar harus memiliki uang?

Dunia memang berputar seperti ini, dulu di musik juga mengalami hal yang sama, berangkat dari sebuah kebudayaan rakyat, yang akhirnya menjadi kompleks, lalu mulai memisahkan orang-orangnya, siapa yang berbakat siapa yang tidak. tapi akhirnya aliran-aliran seperti indie dan punk pun mengembalikan musik kembali ke masyarakat umum, dimana faham “3 chords saja cukup” merajalela untuk terkenal.

ya dunia memang berputar seperti itu, dari yang simpel – kompleks – simpel lagi.

Tapi tampaknya ini hanya isi kepala saya. ini bukan pergerakan mengembalikan kekuasaan ke tangan rakyat. ini cuma ledakan generasi yang miskin merasakan kasih sayang saja. kalo saja orang tuanya setiap pulang bekerja mau memeluk anaknya dan bilang “ibu bangga sama kamu nak”, mungkin saja twitter bangkrut.

kalo saja punya sumber kasih sayang lain selain dari pacar atau pasangan, ada teman yang selalu menanyakan, di mana? lagi apa? apa pendapat mu tentang itu? mungkin status FB pun tak perlu lebih dari 5 baris.

Marah-marah kok di status facebook sih? apa dengan memencet tuts huruf keras-keras dan menulis dengan caps locks masalah jadi hilang? tapi ini bisa jadi menjadi sumber ide untuk menciptakan ketik di touch screen.

Pada suatu hari dalam sebuah sidang akbar para penemu dunia, ditengah-tengah pertemuan tersebut ada seorang ilmuan yang mendobrak masuk, sambil terengah-engah.

Ilmuan 1: kita harus segera menciptakan touchscreen, people are typing angry, keyboard tak mampu lagi menahan kemarahan manusia pak!

Pemimpin ilmuan: tapi kita selangkah lagi menemukan obat kanker?

Ilmuan 1: people are typing angry pak!!

Pemimpin ilmuan: baik kita tunda obat kanker

yaaaahh we never know, mungkin saja kan. it’s funny how lonely this world can be kalo batre hape mati?
Anyway, saya bukan mengkritisi, saya cuma ingin mengibarkan bendera putih menyatakan tak mampu ikut berkompetisi di era 2.0 ini, this is how bad i am in competing for fame, mungkin ngga banyak yang tahu, dulu gw punya loh program radio sendiri, meski cuma warisan, tapi setelah setahun program itu di cut. yauda cuma sejauh itu aja karir gw dalam dunia entertaiment. Yang keren adalah, produser program itu punya program sendiri di radio lain. Edan. bilang kek kalo emang dari dulu ingin menyicipi juga. suka gitu sih.

 

Pokonya untuk @pange dan @kamga, sebagai yang artis dan semi-artis di grup ini (tapi sekarang ngga jelas sih mana yang artis mana yang semi-artis, abis pange meroket sekali sih) tolonglah nasib group ini ada di tangan kalian.

-AdrianoQalbi-

Our latest interview by midjournal

We Are Not Alright: Yang Tak Ada di Televisi Anda

Pernah dengar gerombolan We Are Not Alright? Bukan, mereka bukan geng motor yang lebih memilih mengatur siasat bagaimana menang balap liar ketimbang memikirkan bagaimana melunasi cicilan. Mereka adalah stand up comedian kolektif yang sudah beberapa kali menggelar pertunjukan.

Baiklah, kami tidak akan memaksa anda berpikir keras seolah mengenal mereka. Mereka memang tak seterkenal komedian penabur tepung. Meskipun begitu, tak ada salahnya berkenalan dengan empat comic yang akan menyajikan pertunjukan bertajuk Not As Seen On TV pada 31 Januari dan 1 Februari di Tryst Kemang ini. Mereka adalah Pangeran Siahaan, Adriano Qalbi, Kukuh Adi, dan Mohammed Kamga.

We Are Not Alright

We Are Not Alright

Midjournal [MID]: Silakan perkenalkan diri masing-masing, terutama apa yang kalian kerjakan untuk bertahan hidup mengingat frekuensi naik panggung kalian tak sebanyak comic lainnya. Para penggemar kalian pasti ingin tahu.

Pangeran [P]: Saya bukan dan tak akan pernah jadi seorang comic. Justru saya benci disebut comic dan akan menatap sinis kepada siapa pun yang memanggil demikian. I think I have an ADHD, so I do several different things just to keep me amused, but basically I’m an agent provocateur.

Adriano [A]: Pekerjaan saya adalah copywriter/creative director. Kami semua masih jadi part time comic kok.

Kukuh [Kh]: Sehari-hari saya bekerja pada salah satu lembaga swadaya masyarakat di Jakarta, jadi masih bisa bertahan hidup lah. Lagipula, saya tidak sebegitunya mencari uang dari stand up comedy kok.

Kamga [Km]: Mohammed Kamga. Penyanyi dan pencipta lagu.

[MID]: Saat comic lain sibuk menggelar pertunjukan tunggalnya, kalian masih langgeng dalam grup We Are Not Alright, bahkan menggaet satu orang lagi. Ini karena terlalu setia kawan atau kekurangan percaya diri?

[P]: We just want to do things right. We don’t care about others. Back then when I initiated Provocative Proactive Stand Up, nobody cared to talk about politics as they thought nobody would understand the material. When we started We Are Not Alright, nobody had the idea to form a collective group as if it’s a rocket science. It’s important to note that We Are Not Alright is not a stand up comedy group, it’s an art collective.

[A]: Karena kalau lihat di luar (negeri), yang bikin pertunjukan tunggal atau spesial itu setelah 10 tahun berkarir. There’s a reason why they call it a special. Saya merasa belum ada yang sespesial itu di sini. Lagipula, pada saat terbentuk We Are Not Alright, kami membuka banyak jalan buat comic lainnya untuk bikin pertunjukannya masing-masing. Kalau tidak begitu, nasib comic di sini hanya sebatas menjadi opener (red: penampil pembuka).

[Kh]: Sebenarnya saya sesetia kawan itu dengan Pange, Adri (entah bagaimana mereka), juga dengan Kamga (sedang masa proses, sih). Tapi pada dasarnya, untuk sekarang ini belum ada keinginan untuk bikin special show.

[Km]: Ini bukan pertanyaan untuk saya tampaknya.

[MID]: Menyinggung tema pertunjukan kalian kali ini, Not As Seen On TV, ada apa sebenarnya dengan televisi kita?

[P]: “Revolution will not be televised“, seru Gil Scott-Heron. Kalimat itu cukup menjelaskan. Anda tidak akan menemukan Efek Rumah Kaca, Seringai, dan Homicide dalam acara-acara musik di TV.

[A]: Saya tidak tahu bagaimana menanggapi pertanyaan ini tapi saya tahu televisi kita itu kacau. Ada yang tidak beres.

[Kh]: Anda tonton saja saluran-saluran TV nasional pada jam tayang utama selama 10 menit.

[Km]: Saya termasuk orang yang seminggu sekali muncul di RCTI, dan sudah 6 bulan tidak muncul di TV nomor satu itu, dan saya bahagia. Silakan simpulkan sendiri.

[MID]: Menurut kalian, mana yang lebih sulit: Menjadi lucu atau menjadi didengar?

[P]: Saya tidak ambil pusing untuk jadi lucu atau didengar. Kalau mereka (penonton) suka, bagus; kalau tidak suka, bukan masalah. Saya bukan penghibur.

[A]: Lebih sulit didengar.

[Kh]: Relatif. Kadang orang harus melucu lebih dulu agar didengar, tapi kadang orang yang sudah terlalu sering didengar bisa jadi sangat lucu.

[Km]: Lucu.

[MID]: Deskripsikan apa yang kalian rasakan ketika para penonton pecah tawanya setelah mendengar lelucon kalian?

[P]: “Oh, look what your brain is capable of when you let it function properly.”

[A]: They understand or they agree.

[Kh]: Senang, setidaknya berarti saya tidak gagap.

[Km]: Senang, sih. Menurut saya, bikin orang lain tertawa itu sekelas bikin orang tersentuh saat bernyanyi.

[MID]: Karena kita tumbuh dan dibesarkan dengan berbagai definisi ciptaan manusia, beri kami sebuah kalimat yang akan menjadi jawaban kalian saat ditanya: Apa itu stand up comedy?

[P]: Sebuah kefanaan belaka.

[A]: Tren yang meledak, dan saya terjebak di dalamnya. It’s a love and hate relationship.

[Kh]: Sudut pandang orang ketiga.

[Km]: Sebuah seni berkaca.

[MID]: Ceramah apa saja yang akan kalian sampaikan di Tryst nanti?

[P]: Tentang hal-hal yang akan membuat ibumu marah jika tahu kalian datang menonton kami.

[A]: Materi saya nanti seputar pemikiran tentang agama, melawan tradisi, dan relationship.

[Kh]: Seperti biasa, pendapat-pendapat.

[Km]: Tak ada yang spesial. Saya cuma mau bicara jujur. Biasanya, orang-orang suka yang buka-bukaan.

[MID]: Pertanyaan terakhir, tolong beri kami alasan mengapa sebaiknya kami merelakan sejumlah uang untuk menonton Not As Seen On TV daripada untuk menyumbang korban bencana alam?

[P]: Jika kalian harus berpikir keras untuk memilih antara menyumbang korban bencana atau menonton kami, rasanya kalian bukan segmen penonton yang kami sasar.

[A]: Ada kemungkinan ditipu jika menyumbang untuk korban bencana alam. Untuk menonton kami? Yang jelas kami bukan penipu.

[Kh]: Dana sumbangan bencana alam bisa diselewengkan, sedangkan menonton kami tidak.

[Km]: Kenapa tidak keduanya? Jangan kayak orang susah.

Stop TV Swasta Nasional

Sebetulnya saya terlalu lama menunda untuk memposting topik ini, ini pernah menjadi pembahasan saya bersama narsum Maman Suherman dalam acara radio HRFM Provocative Proactive, Kenapa saya sering membahas tentang media, khususnya TV, karena mereka telah menjadi entity yang begitu agung, yang tidak bisa diganggu gugat, pengaruhnya begitu besar, tapi kesadaran sosial untuk menghadirkan sesuatu yang baik, berpendidikan tampaknya begitu minim.

Menurut saya, TV swasta harus dilarang memiliki hak siar nasional, kenapa? karena mereka dimiliki oleh swasta. Lalu kenapa diperbolehkan? karena bukan rahasia lagi, dulu pemilik para TV swasta ini adalah anak-anak dari penguasa rezim yang lampau. plus jangan lupa, hampir semua TV swasta ini berbendera politik kok. Jadi sudah jelas berita itu berpihak.

Hak siar nasional mestinya hanya dimiliki TVRI sebagai stasiun tv milik pemerintah yang diharapkan selalu netral dalam menyajikan berita-beritanya.

Ada beberapa bahaya yang teramat sangat fatal jika TV Swasta diberi kewenangan untuk bersiaran dalam skala nasional.

1. Pemberitaan Bencana

Fungsi utama TV adalah alat untuk menyebarkan informasi secara mainstream, tapi karena TV Swasta yang bersiaran secara nasional itu berlokasi di Jakarta, sudah tentulah sebagian besar berita yang disiarkan itu demi keuntungan pusat. Di awal tahun 2013 di jakarta terjadi banjir yang sampai merendam istana negara, berita liputannya dari bulan Januari sampai Februari, sementara itu di waktu yang sama, terjadi banjir di daerah Manado, yang tidak ada beritanya.

Betul Istana adalah ikon negara, jadi satu negara harus tahu apa yang terjadi. tapi ngga perlu sampai berbulan-bulan sampai satu Indonesia harus nonton ini terus, apa lagi kalo di daerah tersebut sedang terjadi bencana jg.

menurut saya ini sebuah kegilaan, jika saya tinggal 3km dari titik banjir di Manado, saya merasa tenang karena setiap TV hanya menyiarkan banjir Jakarta, pdhl ngga jauh dari rumah ada banjir yang mengancam hidup saya.

2. Keterpihakan secara politik

Tadi sudah saya sebutkan bahwa setiap TV membawa bendera politik, bukannya tidak boleh, sebagai media penyebaran informasi mainstream, ini merupakan persenjataan yang sangat penting bagi sebuah partai, di USA pun begini cara bekerjanya. Tapi.

Apakah mereka sudah mengadakan edukasi yang cukup terhadap audience, TV mana milik siapa? contoh, TV One selalu bilang “bencana alam lumpur Sidoarjo”, sisanya akan bilang lumpur Lapindo. karena yang satu punya kepentingan melindungi sebuah citra, yang sisanya tidak punya. tapi ini bukannya tidak boleh, tapi hrs ada edukasi terlebih dahulu, TV mana yang berpihak kemana. Seperti di USA, CNN itu lebih condong ke Democrat, FOX itu lebih condong ke Republican, ya tentu kalo nonton beritanya, pasti bias, tapi ya memang begini dunia. Saya lebih terima jika semua mengeluarkan warna aslinya.

Apakah dengan dominansi TV Swasta nasional yang berlokasi di jakarta ini, setiap daerah-daerah bisa mendapatkan berita politik didaerahnya masing-masing? pada saat pemilihan gubernur atau walikota, dapatkan audience mereka mendapatkan informasi dari TV, atau semua terlibas dengan berita dari pusat?

Apakah mereka bisa mengetahui apa yang sedang dilakukan gubernurnya atau walikotanya? Ppa mereka tahunya hanya aksi jokowi dan ahok? (buat apa yang diluar jakarta tahu ttg jokowi dan ahok, perlu, tapi bukan cuma ini politisi yang mereka harus tahu)

kita akan mengadakan pemilu 2014, 2 bln setelah piala dunia (yang merupakan tontonan semua lapisan masyarakat). Dan hak siar piala dunia hanya akan ditayangkan oleh satu TV Swasta Nasional. Saya tidak kaget, kalo nanti setiap halftime calon Presiden dan Wakil Presiden akan pidato “tolong pilih saya”. tentu keberuntungan ini akan membuat pertarungan pemilu menjadi timpang. Ada alasan yang sangat kuat, kenapa pemilik stasiun TV diajak jadi WaPres, ya untuk tujuan yang satu ini. Dan saat ini saya percaya ada CaWaPres yang punya TV network sedang dimarahi karena kalah tender penyiaran Piala Dunia.

Plus, terlalu enak jika yang ingin menjadi Presiden hanya cukup duduk santai, pidato dari Jakarta untuk meminta simpati. Jika ingin menjadi Presiden, bukannya org itu mestinya jalan keluar “door-to-door” keliling Indonesia untuk mencari dukungan? kok enak bgt. saya merasa, kalo toh nantinya org yang berkuasa akan korup juga, paling tidak yang mau korup, jgn males lah, gih keliling sana.

3. Jakarta akan selamanya menjadi mercusuar

Maksud mercusuar disini adalah Jakarta akan selamanya akan menjadi daerah yang diminati dalam mencari ketenaran. terlalu diminati bahkan. ketimpangan yang Jakarta telah dapatkan membuatnya menjadi seperti tuhan.

Jika ingin mendapat uang cepat, coba saja datang ke daerah-daerah, blg datang dari jakarta, sedang mengadakan lomba acting, orang banyak berlomba-lomba ikut, ngasih duit, sampe jual sawah. kasus seperti ini sering terjadi, baik yang beneran atau mau cuma nipu.

Kenapa menjadi seperti ini? karena ledakan TV lokal daerah br ada setelah era reformasi, ada beberapa daerah seperti Surabaya dengan SCTV, tapi hanya beberapa gelintir saja. Perbedaan gap waktu ini membuat TV Jakarta lebih canggih alat produksinya, lebih besar produksinya dan tentunya lebih diminati. “ke-sexy-an” ini membuat TV lokal menjadi tidak significant.

4. Menghalangi kemajuan acara TV dan ekonomi lokal

Di post saya yang lama, Advertising, TV, dan pelaku seni saya sedikit menjelaskan bagaimana bisnis TV bekerja, bukan mereka tidak mau memproduksi yang bagus, tapi karena biaya produksinya jadi terlalu mahal untuk mendapatkan untung yang sama jumlahnya. mereka tidak bergerak demi melayani penonton tapi demi Iklan.

Jakarta atau kota-kota besar lainnya sudah eneg dengan acara TV, tapi apakah ini akan membuat TV men-stop penggunaan efek karpet terbang yang seadanya dan sangan mudah ketawan itu? tentu tidak, karena jika bicara Indonesia, yang di kota besar mungkin eneg, tapi sisanya tidak gitu. Buat apa berubah kalo peminat masih banyak, dan iklan hanya mau beriklan di TV yang banyak peminatnya. Jadi bayangkan, Duit iklan semua masuk untuk TV Jakarta, padahal yang di Jakarta ngga ada yang doyan.

Ini juga yang akan membunuh TV lokal untuk berkembang, karena jmlh penonton TV lokal itu terlalu sedikit, karena sedikit, iklan tidak mau beriklan, jika tidak ada yang beriklan, TV tersebut akan mati.

Kenapa menghalangi pertumbuhan ekonomi lokal? jika saya memiliki toko di Pontianak dan ingin memajukan bisnis saya, saya harus beriklan, tapi pasang dimana jika TV lokal tidak ada yang nonton. Berarti saya harus budget untuk pasang di TV Swasta nasional, tapi buat apa? jika ada budgetnya pun, buat apa yang di Jakarta tahu ttg toko saya? akhirnya jd tidak beriklan.

Saking sedikit yang beriklan di TV lokal, TV lokal harus membanting tarif harga dengan sangat keras, kebetulan saya pernah bermain ke Katulistiwa TV, salah satu TV lokal di Pontianak, coba tebak berapa tarif pemasangan iklan 30 detik di TV tersebut?

jawabannya adalah 50ribu, yak sebanding dengan uang pulsa memang. jd bayangkan, dlm acara 30 menit (24 menit + 6 menit iklan) tv hanya mendapatkan pemasukan 600ribu (50ribu x 6 menit slot iklan). acara apa yang bisa dibikin dengan budget 600 ribu?

Saya berharap akan segera diberlakukan kebijakan dan aturan main yang jelas, demi kebaikan semua, demi kebaikan konsumen dan kualitas acara TV, jika diperhatikan, kualitas acara TV dan musik semakin menurun tiap harinya, kenapa? mereka dipaksa untuk “menyenangkan” satu NKRI ini, padahal kualitas bagus, indah atau bermanfaat akan selamanya ditahan budaya, maksudnya yang bagus di Bogor, belum tentu bagus di Ambon begitu juga seterusnya. bagus untuk semua itu hanya berarti tidak bermanfaat untuk semua.

Jika TV diwajibkan hanya boleh mengambil audience lokal, pasti saya yakin acaranya makin berkualitas, musik jg begitu, dan bisnis lokal jg bisa berkembang. Dengan lokalisasi berarti insight untuk memproduksi sesuatu akan semakin dalam dan hasilnya, acara dan musik yang ditayangkan akan selalu berkaitan dengan insight daerahnya. Setiap daerah bisa menikmati komedinya, keseniannya, dramanya plus mendapatkan info komersial yang berkaitan dengan daerahnya. Mungkin NKRI, untuk pertama kali, akan hidup sesuai dengan semboyannya berbeda-beda tapi tetap satu. sekarang tampaknya baru sampai “memaksakan jadi satu semua perbedaan”.

Adriano Qalbi

We Could Be Right

WeCouldBeRight

Yes, after almost 6 month since the last dance, three posh and pretentious middle-class Jakarta lads by the name of We Are Not Alright are now back.

Yes, di tempat yang sama, Tryst’s Resto & Gallery, Kemang.

Yes, itu show dua hari (Sabtu 20 April dan Minggu 21 April 2013). Show pertama kita tahun lalu sold out dan over-capacity. Kami hanya menuruti hukum Supply & Demand. Neolib.

Yes, free first drink.

No, ngga gede kok, kapasitas cm 120 tiket/hari. ada yang dpt duduk, ada yang berdiri

No, ini cuma mini show dan kita nggak bikin tur. We’re kinda busy living in reality.

Harga tiketnya Rp. 75.000. Untuk pesan tiket, tinggal hubungi no telp 08980909021, 08568532503 atau email ke wearenotalright@yahoo.com. Bilang mau tiket hari apa dan jumlah tiket yang dipesan, lalu ikuti petunjuk selanjutnya dengan seksama seolah-olah itu petunjuk Ilahi.

Yes, hanya karena di poster tidak ada gambar orang berdiri di depan mikrofon dan stand-nya,  tidak berarti ini bukan acara stand up comedy. Ada masa yang belum lama berlalu ketika grafis corong pengeras suara belum dimonopoli oleh stand up comedians seperti swastika sebelum dicaplok Nazi.

We’re not saying that we have the moral standard, but hey, we could be right.

Jual! Jual! Jual di mana mana!

Image

“Apakah kamu pintar?”

“Apakah kamu berprestasi?”

“Apakah kamu orang yang baik?”

“Bagus!”

“Tapi apakah kamu ada nilai jualnya?”

“Tidak?”

“Oke Bye!”

 

Saat ini manusia bukanlah makhluk hidup ciptaan Tuhan lagi, manusia sudah menjadi sebuah produk ciptaan manusia. Terpampang disebuah etalase supermarket yang bernama hidup dengan pembeli berupa lapangan-lapangan pekerjaan.

Label harga setiap individu diberikan oleh para pendahulu. Bukan suatu masalah jika harganya murah atau mahal, selama pembelinya banyak apapun bisa dilakukan. Sejauh mata memandang yang terlihat hanya jualan orang orang.

 

Turut berduka atas kehilanganmu, tapi nampaknya pasar menyukaimu.

Biar kugunakan mukamu untuk menjual barang – barangku.

Gak usah bilang “gak mau”.

Karna kau juga cuman produk buatan kaumku.

 

– Kukuh Adi

 

Editorial Notes: Valentine’s Day

Editorial Notes adalah rubrik baru di blog We Are Not Alright dan jika anda bertanya, ya, inspirasinya dari The Guardian’s Pass Notes. Tabik.

How does it look like? Pink, heart-shaped, and utterly ridiculous.

Is it Valentine’s Day? Yes it is, the day when…..

Woohoo, i’m gonna buy my spouse a box of chocolate! ….people pretend that they care about love and celebrate it like they didnt know what love is before. Makes me want to throw up.

Why are you cynical? It’s Valentine’s Day! Be happy! Because like other pop celebrations, it’s been heavily commodified.

What do you mean by commodified? Please dont use big word, i’m illiterate. It means that the real value of it has been skewed and distorted from its origin.

Skewed?  Distorted? Please, my TOEFL score was pretty poor. Nevermind, what i’m trying to say is there’s no use of Valentine’s Day.

I know people like you, you must be one of those religious people who have haramized Valentine’s Day! Are you from MUI? No, but what the hell is haramized?

To put one under the label haram. I’ve just made it up. I thought you’re illiterate.

Not as illiterate as those who spend time demonstrating against Valentine’s Day though. The ones who think that Valentine’s Day is like a massive orgy?

Yeah, would you tell me more about it? Every year these people keep themselves busy by preaching that Valentine’s Day is a work of evil. Last year i saw a bunch of students protesting in Bundaran HI, carrying slogans and banners against the wicked festivity. This one cleric even went further and stated that every Valentine’s Day, the sales of condom raises up to 80% and made it a reason to, errrr,  haramize the celebration.

What’s the correlation between condom sales and Valentine’s Day? Because the protesters think people tend to have sex more on February 14th than any other day. So rallying against Valentine’s Day is assumed to be similar to crusading against adultery.

Blimey! So they dont get laid on any other day? Maybe they dont get laid at all. Sex before marriage is not advised in this country, you know, even some people could be severely punished if they’re caught performing coitus with illegal partners.

Coitus? What’s that? And what do you mean by illegal? Did they enter the country without legitimate visa? Like some Indonesian immigrants in California?  Be enlightened, coitus is a medical word for fucking. Sounds less exciting , i know. And by illegal, i meant, having sex with ones who are not your husband/wife.

So you’re not allowed to have sex with somebody who’s not your husband/wife even though it’s consensual? You certainly have never heard of “adat ketimuran”

I haven’t and i got zero interest to learn more about it. So let me clarify, you’re against Valentine’s Day but you’re not from the MUI? So who are you? Somebody with common sense. Valentine’s Day for most people here is like Christmas for Japanese people.

So are you going to get laid on Valentine’s Day? I’m not that pathetic.

Here, have some chocolate. Fuck off

Pangeran

On Being a Second Class Customer in Your Own Country

Last month, media personality and former TV journalist Marischka Prudence tweeted about her inconvenient experience at a resort’s restaurant in Bali. Prue, as she’s affectionately known, was ordering drinks at the bar before the waitress said in an unpleasant manner that the patrons of the place usually order food as well and suggested that if drinks were only the thing she’s looking for, she’s better off somewhere else.

Prue was actually going to move inside the restaurant to dine before the waitress violated the golden rule of hospitality industry of not underestimating the customers. She was understandably irritated by the treatment she got and left shortly in steaming anger. As a person who travels a lot, Prue reckoned that the only reason of her being mistreated was being a local tourist in a popular destination for international visitors.

If a person who regularly appears on TV like Prue (although apparently not famous enough to be known by the ignorant waitress) was still seen as a second-class  customer who couldn’t afford the food, what chance do other people got?

That is not the first time you hear that kind of stories, and Bali could provide you a lot of some experiences from badly-treated local customers. The notorious nightclubs on Legian street are known to have ethnicity-based door policies. Free entry for all international tourists, but if you’re locals, you have to be frisked at the door and charged with a first drink ticket.

The banner hanging on the wall said “international,” but I’m sure what they mean is more than that since my American-Hispanic friend was stopped at the door. I suspect the reason is because she didn’t really look “international” to the bouncers.

Why the different treatment? Simply because if you’re locals, they think you’re not going spend your money inside the joint and only present for cheap entertainment: staring at foreign tourists having fun. In other words, if you’re locals, they think you’re poor.

Of course there’s a lot of places in Bali that welcome all tourists impartially, but different treatment to locals is a general theme you can always spot on. You can tell how different you’re being treated if the waiters take a longer time to serve you while other customers are being served like royals.

Similar treatments can also be found in Jakarta. There’s this one restaurant and cafe in Senayan, South Jakarta whose name actually suggests it’s the place for people to unite in a warm and heartfelt ambience, but the service is far from that.

I tried to reserve a table by phone but whoever that was at the other end of the line said that all tables had been booked. Out of curiosity, I called again a few minutes later and this time I was speaking in English. Unsurprisingly, I was told that some tables were still available and asked about my arrival time. I’ve stopped going to that cafe since then.

Some people try to argue that the difference in treatment is because that foreign customers treat the waiters better than the locals do. I don’t put the fact aside that locals don’t tip as much as it’s not the custom here since most of the times the price we pay includes service tax. But that’s not a reason to be drowned in prejudice and start treating locals as second-class customers. I sense there’s something bigger to it.

The ludicrous experience of being denied a table in a cafe because Indonesian language tells me that the source of the problem lies deeper. It’s an inferiority complex. If they speak English, then they have more cash to spend than those who don’t. If they’re “internationals,” then they must be better patrons than those who are locals. That’s a mindset that has been carved on head of these people.

I’m not a xenophobe and it would be highly ridiculous to bring down this debate to xenophobic issue. I believe the problem is not in these foreigners who’s been perceived as better patrons. Most of them are respectful to the locals. The problem is in the Indonesian people themselves who perceive the locals as inferior to the foreigners.

Is it a result of post-colonial mentality? I don’t know, but as long as the difference between getting a table is do I speak English or not, I know something is not right.

We are not alright.

Pangeran

Published on The Jakarta Globe website

The Act of Killing and Indonesia’s Dark Past Nobody Talks About

I was 10 minutes late when I quietly sneaked in to a room crammed with people sitting tightly to their chairs. Their eyes fixed to the screen. I have been to many independent film screenings, but this one was not like any other.

There was no sign whatsoever to indicate that there’s a film screening inside. It was meant to be clandestine due to the nature of the film, entitled “The Act of Killing,” an award-winning documentary by British-based American filmmaker Joshua Oppenheimer.

From the invitation I received, it clearly said the screening is a closed event and not to be passed around. Prior to the screening, the attendees were asked not to spread the word on social media to avoid unwanted difficulties. “The Act of Killing” contains materials that are prone to disturb viewers, not to mention the historical facts that are still hard to accept to some people in Indonesia.

“The Act of Killing” follows the life of Anwar Congo, who unashamedly claimed himself as a fearsome executor in Medan, North Sumatera, following the alleged abortive coup by the Indonesian Communist Party (PKI).

As written in the history — or unwritten — the failed coup resulted in the witch-hunt against PKI members and alleged sympathizers. Many of them were captured, tortured and killed without legal trial. Once these alleged communists were detained, they would soon be handed to Anwar and his accomplices who would perform some of the gruesome executions ever imagined by mankind.

I’m not an expert in cinematography, but what is so interesting about “The Act of Killing,” apart from the obvious topic which remains untouched for a long time, is the way Anwar’s story being told.

Instead of the orthodox way of making documentary by combining interviews and footage, Oppenheimer creatively re-enacted what Anwar did in the past and shot them in the film. Anwar starred and acted in a film where he re-enacted all his mischievous deeds. It’s like making a documentary about Adolf Hitler and asked Der Fuhrer to act as himself in a staged scene.

During his heyday, Anwar was a movie buff and stated that he’s a big fan of American actor John Wayne, so he had no problem acting in front of camera.

For a street thug who had no formal background in drama, I was ever so surprised by how relatively decent Anwar’s acting was. He mentioned how western movies inspired his way of execution. He said repeatedly that his favorite method of execution is strangling his victim with a wire a la Italian mafia. 

For those who have dug deep enough to learn more about this country’s unwritten history, what is portrayed in “The Act of Killing” is nothing but a confirmation. We’ve heard of the witch-hunt against the communists and the public lynchings that are considered as taboo to talk about. What’s different about this film is for the first time we’ve given the details by the perpetrators themselves.

Some online comments I read accused Oppenheimer of tricking Anwar and his men in shooting this film without their acknowledgment. After all, Anwar was persuaded to make another film which glorifies his role in destroying the communists in Medan, but what comes out as a final product is some kind of the behind-the-scene story of that film.

Ethics aside, Anwar and his henchmen admit their brutality and sadistic executions, but the thing is, they don’t quite feel guilty about it. They see what they did as something that should be done. It’s  a matter of kill or get killed.

Public demand for “The Act of Killing” to be screened in Indonesia is high since the film won an award in Toronto Film Festival and featured in Tempo magazine. But I cannot see this film goes beyond limited screenings, at least in the near future. Not only the topic is controversial and it contains grotesque reenactments, but some scenes in the film have some prominent government officers whom I shall leave nameless until you see it yourself.

If one day “The Act of Killing” goes public – let’s say the film is available on Torrent or the pirated copies are being sold by street peddlers – I  can’t see it not sparking controversy and dividing opinions. Some suggest that it would be better for now if it is kept limited so the closed circle of intellectuals and thinkers can make it as a learning object without the brouhaha it might cause if it’s released publicly.

I just wonder how we can make peace with ourselves as a nation and society if we keep on refusing to embrace the bitter truth of history. Our journey to reconciliation is far from over.

PangeranPublished on The Jakarta Globe website